Kiprah Politik Sutan Syahrir di Kancah Internasional | Internetan Gratis

Kiprah Politik Sutan Syahrir di Kancah Internasional

Kiprah politik dan keberhasilan Sutan Syahrir di kancah internasional.

Kiprah Politik Sutan Syahrir di Kancah Internasional

Kiprah politik dan keberhasilan Sutan Syahrir di kancah internasional, keterlibatannnya bermula saat dikeluarkannya Maklumat Wakil Presiden pada 16 Oktober 1945. Sesuai maklumat, Sutan Syahrir ditunjuk sebagai Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Sutan Syahrir diserahi kekuasaan legistatif, untuk bersama-sama dengan presiden menetapkan garis-garis besar haluan negara.

Pengaruh Sutan Syahrir semakin kuat ketika pada 15 November 1945 sampai 27 Juni 1947, ia ditunjuk sebagai Perdana Menteri (PM) RI pertama dan sekaligus merangkap menteri luar negeri. Dengan jabatannya itu, Sutan Syahrir semakin leluasa memainkan diplomasi internasional. Hasilnya, kemerdekaan Indonesia makin mendapatkan dukungan internasional.

Faktor Keberhasilan Sutan Syahrir di Kancah Internasional

Ada beberapa faktor yang menunjang keberhasilan Sutan Syahrir dalam perjuangannya di kancah internasional, terutama dalam berhubungan dengan pihak Sekutu yang memenangkan Perang Dunia II.

Pertama, di masa pendudukan Jepang, Bung Karno dan Bung Hatta lebih memilih bekerja-sama dengan penjajah sesama Asia itu. Hal ini telah membuat pihak Sekutu curiga dan menuduh kedua tokoh itu sebagai kolaborator Jepang.

Kedua, tampilnya Soekarno sesudah proklamasi sebagai pimpinan eksekutif, serta tidak adanya partai-partai politik, telah menimbulkan kecurigaan di pihak Sekutu maupun dunia Internasional, bahwa pemerintahan RI adalah ciptaan Jepang. Pemerintahan Indonesia diselenggarakan secara diktator dan bukan atas dasar demokrasi.

Ketiga, Sutan Syahrir di mata Sekutu tidak termasuk dalam black list (daftar orang tercela) sebagai kaki tangan Jepang dan penjahat perang. Sebagai seorang sosialis, Sutan Syahrir mempunyai kawan-kawan seperjuangan di luar negeri, khususnya di Eropa dan Asia. Hal ini memudahkannya menarik simpati terhadap perjuangan Indonesia. Terakhir, tampilnya Sutan Syahrir yang sosialis dan demokrat yang anti-imperialisme, anti-kapitalisme, dan anti-fasisme dapat menghapus image dunia yang tidak baik terhadap Indonesia.

Berbagai faktor itulah yang memudahkan Sutan Syahrir dalam membuka jalan baru bagi kesediaan Sekutu dan Belanda tampil dalam meja perundingan. Pada 25 Maret 1947, dengan Inggris sebagai penengah, Belanda dan Indonesia menandatangani Perjanjian Linggarjati.

Hasil terpenting dari perjanjian Linggarjati, antara lain, kedaulatan RI diakui secara de facto oleh Belanda atas wilayah-wilayah Sumatera, Jawa, dan Madura. Selain itu, dalam perjanjian ini secara khusus juga memuat pasal mengenai Arbitrase (pasal 17 ayat 2), yang memberi amanat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk dapat memaksa pihak Belanda menghentikan agresi militernya terhadap Indonesia. Pada 21 Juli 1947, atas desakan PBB, Belanda menghentikan agresinya dan bersedia menyelesaikan masalahnya dengan Indonesia secara damai.

Secara substansi, perjanjian Linggarjati diakui menimbulkan ketidakpuasan aspirasi rakyat Indonesia. Sutan Syahrir sadar hal ini, terlebih dengan kekuatan riil yang ada saat itu. Namun baginya, Liggarjati hanya dipakai sebagai batu loncatan untuk mencapai cita-cita kemerdekaan seluruh Indonesia.

Di kemudian hari, pengaruh perjanjian ini diakui cukup besar. Misalnya, banyak negara seperti AS dan Inggris secara de facto mengakui kedaulatan RI, sementara Mesir (tercatat sebagai negara pertama kali), dan kemudian negara-negara Arab lainnya, mengakui kemerdekaan dan kedaulatan RI baik secara de facto maupun de jure.

Memang pada perjalanan selanjutnya, nasib Perjanjian Liggarjati tak berumur lama, hanya 3 bulan 26 hari. Belanda mengingkari perjanjian karena dinilai menguntungkan Indonesia, dan di pihak lain membuat posisi Belanda makin tersudut di mata dunia internasional.

Beberapa hari setelah ditandatangani Perjanjian Linggarjati, Sutan Syahrir diundang PM India, Pandit Jawaharlal Nehru, menghadiri Inter Asian Relations Conference di New Delhi, 25 November 1947. Dalam pidatonya, Sutan Syahrir menegaskan perlunya politik Non-Blok maupun pembentukan suatu organisasi regional di antara sesama bangsa Asia. Di kemudian hari, gagasan ini menjelma dalam bentuk Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara, yang lebih dikenal dengan ASEAN.

Kesempatan menghadiri konferensi itu juga dimanfaatkan Sutan Syahrir untuk menjalin persahabatan dengan India. Melalui suratnya tertanggal 29 Mei 1947, Sutan Syahrir meminta dukungan dan bantuan kepada Nehru terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Harapan Sutan Syahrir berhasil. Pada 30 Juli 1947, India resmi mengajukan persoalan Indonesia ke DK PBB. Tak hanya itu, India juga mengadakan konferensi Asia untuk mengutuk Belanda ketika negeri itu melancarkan agresi militer kedua pada 1949.

Sutan Syahrir Menjadi Ambassador-at-Large (Duta Besar Keliling)

Kiprah politik Sutan Syahrir di dunia internasional terus berlanjut, meski ia tak lagi menjabat sebagai perdana menteri atau duduk di pemerintahan berikutnya. Peran itu ia jalankan saat negara mempercayainya menjadi Ambassador-at-Large (Duta Besar Keliling), sehubungan dengan agresi militer Belanda kedua.

Setelah berhasil melewati blokade yang sangat ketat dari pemerintahan Hindia Belanda, Sutan Syahrir berangkat dari Yogyakarta ke Singapura dengan menumpang pesawat India. Pesawat itu dikirim khusus oleh pemimpin India Jawaharlal Nehru. Dalam perjalanan ke PBB, ia singgah di New Delhi dan Kairo, untuk mengusahakan dukungan dan bantuan dari negara-negara tersebut.

Suatu kehormatan bagi Sutan Syahrir, ketika pada 14 Agustus 1947, tiga hari menjelang peringatan kemerdekaan RI, Sutan Syahrir sebagai wakil RI diberi kesempatan oleh Presiden Dewan Keamanan (DK) PBB untuk menghadiri dan mengambil bagian dalam sidang DK. Sutan Syahrir berbicara panjang lebar tentang kondisi Indonesia. Hal ini menimbulkan kemarahan luar biasa dan protes dari pihak Belanda. Dalam sidang itu, delegasi RI yang dipimpin Syahrir terdiri dari Haji Agus Salim, Dr. Sumitro, Ch. Thambu dan Soejatmoko.

Dalam Sidang Dewan Keamanan PBB itu, Sutan Syahrir menyampaikan tuntutan-tuntutan RI agar DK PBB campur tangan dalam sengketa Indonesia-Belanda, membentuk komisi yang mengawasi pelaksanaan perintah DK tentang case fare, serta meununtut Belanda mengundurkan diri dari posisi sebelum agresi militer berlangsung. Upaya Sutan Syahrir tidak sia-sia. Setelah melalui perdebatan panjang, DK PBB akhirnya membentuk Panitia Jasa-jasa Baik (Committee of Good Offices) untuk membantu mencapai suatu penyelesaian Indonesia-Belanda secara damai.

Keberhasilan misi diplomasi Sutan Syahrir harus diakui sebagai kesusksesan utama bagi Indonesia meraih dukungan dan bantuan dunia internasional melawan penjajahan Belanda. Untuk itu, pemerintah RI memberi mandat tambahan kepada Sutan Syahrir sebagai Duta-Istimewa dan Penasihat RI, yang bertugas memimpin seluruh perwakilan RI di luar negeri serta menjalankan segala usaha -- politik, ekonomi, dan keuangan -- untuk memperkuat kedudukan RI di dunia internasional.

Sutan Syahrir, yang dijuluki sebagai An atomic bomb of Asia oleh srikandi India, Sarojini Naidu, pada saat menghadiri forum Inter Asian Relations Conference, dengan senyum diplomatnya telah menarik perhatian dan simpati dunia terhadap perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia.

Di bidang politik diplomasi dan usahanya untuk merintis jalan bagi terjalinnya hubungan RI dengan dunia internasional inilah, saham dan sumbangsih terbesar Sutan Syahrir terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Terlepas dari aliran politik dan ideologinya, di sinilah tercatat jasa-jasa Sutan Syahrir yang tidak dapat dilupakan oleh sejarah.

Penghargaan Atas Jasa-Jasa Sutan Syahrir

Di kalangan diplomat Indonesia khususnya, dan dunia internasional umumnya, Sutan Syahrir tercatat sebagai diplomat termuda. Dalam usia 36 tahun, Sutan Syahrir yang fasih berbahasa Inggris itu, sudah menjadi PM pertama RI dan sekaligus diplomat ulung. Selain menjadi PM, Sutan Syahrir juga pernah menjadi menteri dalam negeri, menteri luar negeri, penasihat presiden, serta Duta-Istimewa yang membawahi seluruh perwakilan RI di luar negeri. Ia pun merupakan penggagas berdirinya perhimpunan di kalangan bangsa Asia. Atas jasa-jasanya itu, pemerintah RI menganugerahi beberapa penghargaan, diantaranya;

1. Tanda Kehormatan Satyalencana Peringatan Perjuangan Kemerdekaan, tanggal 20 Mei 1961.

2. Pengangkatan sebagai Pahlawan Nasional, dengan keputusan presiden RI no. 76 tahun 1966, tertanggal 9 April 1966.

3. Pengangkatan sebagai Perintis Kemerdekaan, dengan S.K. Menteri Sosial tertanggal 9 April 1976.

Tak hanya jejak politik diplomasi ia tinggalkan, kepada generasi penerus perjuangan, Sutan Syahrir juga meninggalkan karya-karya berharga. Beberapa karya dan buku yang pernah ia tulis antara lain: Pikiran dan Perjoangan (1950), Perjuangan Kita (1945), Indonesische Overpeinzingen (1946), Out of Exile (1949), Sosialisme dan Marxisme (1967), Nasionalisme dan Internasionalisme (1968), dan Sosialisme Pembangunan Indonesia (1983). Inilah cara Sutan Syahrir 'mengajari' orang meneruskan perjuangan Indonesia.
Nama

Architect,1,Astronomy,1,Auto,9,Food,1,Health,13,History,9,Khazanah,65,News,2,Science,4,Sport,1,Style,2,Tech,33,Travel,4,Tricks,4,Videos,2,
ltr
item
Internetan Gratis: Kiprah Politik Sutan Syahrir di Kancah Internasional
Kiprah Politik Sutan Syahrir di Kancah Internasional
Kiprah politik dan keberhasilan Sutan Syahrir di kancah internasional.
https://2.bp.blogspot.com/-t_Re9eTAYhI/W6Y-B7UfcJI/AAAAAAAAAcc/RJ0CwoW-CsEhFeJT_2YWQGldL0BnyA_wwCLcBGAs/s400/kiprah-politik-sutan-syahrir-di-kancah-internasional.JPG
https://2.bp.blogspot.com/-t_Re9eTAYhI/W6Y-B7UfcJI/AAAAAAAAAcc/RJ0CwoW-CsEhFeJT_2YWQGldL0BnyA_wwCLcBGAs/s72-c/kiprah-politik-sutan-syahrir-di-kancah-internasional.JPG
Internetan Gratis
https://www.internetan.gratis/2018/09/kiprah-politik-sutan-syahrir-di-kancah-internasional.html
https://www.internetan.gratis/
https://www.internetan.gratis/
https://www.internetan.gratis/2018/09/kiprah-politik-sutan-syahrir-di-kancah-internasional.html
true
474406421978589795
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy