Persoalan dan Pemikiran Sutan Syahrir | Internetan Gratis

Persoalan dan Pemikiran Sutan Syahrir

Aneka ragam persoalan dan sekelumit pemikiran Sutan Syahrir

Persoalan dan Pemikiran Sutan Syahrir

Aneka ragam persoalan dan sekelumit pemikiran Sutan Syahrir yang berbicara tentang membuka hati seluas-luasnya serta penyesalannya atas muncul bahkan berkembangnya prasangka-prasangka terhadap segala yang berbau Barat. Sebab, katanya, kita hanya bisa menyelami makna ilmu pengetahuan Barat dalam hubungannya dengan masyarakat yang telah melahirkannya dan menumbuhkannya. Kemajuan teknik dan ''alangkah besarnya kemampuan manusia'', semua itu tidak mungkin tanpa ilmu pengetahuan. 

Dalam kata pengantar buku 'Sutan Syahrir: Renungan dan Perjuangan', Charles Wolf Jr. memang menyebut betapa studinya di negeri Belanda telah melahirkan rasa kagum terhadap pendidikan dan kebudayaan Barat. Hal itu nampak jelas dalam catatan-catatannya dalam buku ini. Tapi, di samping itu telah memperkuat pula keyakinannya bahwa Sutan Syahrir harus mengabdikan kehidupannya untuk turut memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsanya, bangsanya yang merasa agak asing terhadapnya, untuk sebagian karena pendidikan yang diperolehnya dari Barat. 

Sutan Syahrir berusaha sedapatnya membantu kaum intelektual Indonesia yang kala itu ''tidak membaca kecuali bacaan fak mereka sendiri, surat kabar dan kadang-kadang sedikit bacaan hiburan.'' Tetapi begitulah, ''kita begitu sering tidak saling mengerti, aku dan bangsaku,'' katanya. 

Bagi mereka, Sutan Syahrir merasa dirinya dipandang terlampau abstrak, terlalu 'kebarat-baratan', di luar jangkauan pengertian mereka. Bagi Sutan Syahrir sendiri, mereka dirasanya terlalu lamban, membuatnya berputus asa karena keengganan dan kesalahpengertian mereka. Ia jadi suka marah dan tidak sabar karena kekurangan mereka yang kecil-kecil; bahkan kadang-kadang timbul rasa pahit padanya. Akan tetap nasib mereka dan tujuan hidup Sutan Syahrir adalah satu: senasib sepenanggungan dari dulu hingga sekarang. 

Dalam 'renungan' yang ditulis pada 9 Desember 1934, Sutan Syahrir berkata: ''Pada saat segala inilah yang yang diminta dari aku demi bangsaku --yaitu memutuskan, menghancurkan kebahagiaan pribadi, berpisah dengan keluargaku-- maka hilanglah segala keberatan-keberatan itu; sekarang hanya tinggal rasa setiakawan dan rasa senasib dan sepenanggungan dengan bangsaku yang sengsara ini.'' 

Kala itu pun Sutan Syahrir sudah melihat betapa umat manusia sedang berada dalam peralihan besar. Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang tetapi bahwa ada perubahan-perubahan besar sedang terjadi, ''bisa kita lihat dengan mata kepala kita sendiri.'' Ini menuntut lebih banyak dari manusia sendiri, lebih dari sebelumnya. Pula, ini mensyaratkan kekuatan yang lebih besar kalau tugas itu hendak dikerjakan dan diselesaikan sebaik-baiknya. Tak ada waktu dan energi yang boleh diboroskan untuk kesulitan-kesulitan, bahkan tidak pula kepada kesedihan-kesdihan pribadi manusianya. 

Yang harus dilakukan ialah merangkum zaman ini dengan akal budi. Tak boleh orang silau kepada gejala-gejala yang bersifat sementara dan hal-hal yang aktual saja, tetapi orang harus mencoba melihat hal-hal yang lebih besar dan mengarahkan akal budi kepadanya. Itu akan memberikan ketenangan, kekuatan, keyakinan. Segala penderitaan pribadi hanya bersifat sementara; bahkan pun jika seumur hidup orang harus mengalaminya maka yang terlibat di dalamnya cuma satu jiwa manusia saja. 

Tak urung kegalauan menderanya juga. Dengan tandas di dalam suratnya tertanggal 20 Juni 1935, Sutan Syahrir menyodorkan pertanyaan-pertanyaan: Apakah aku ini barangkali sudah menjadi bertambah jauh dari bangsaku? Karena mengapa aku merasa jengkel akan hal-hal yang mengisi hidup mereka, hal-hal yang disukai mereka itu? Mengapa aku acapkali merasa tidak ada artinya dan jelek apa yang bagi mereka mengandung keindahan atau yang menggerakkan perasaan-perasaan yang lebih lembut? 

Padahal ia merasa sebenarnya jarak batin antara dirinya dengan bangsanya tidaklah lebih lebar dari jarak antara seorang intelektual di negeri Belanda dengan, umpamanya, seorang petani di Drente, atau bahkan antara sang intelektual dan rakyat tak terpelajar umumnya di negeri itu. Bedanya, menurut hemat Sutan Syahrir, karena ada sebagian bangsanya --bahkan bagian yang cukup besar juga-- yang kira-kira sama tingkat intelektualnya dengan dia, dan justru bagian bangsa itu pula yang menentukan mutu dunia pikir dan kultural di negeri Belanda: yaitu kaum intelektual, ilmuwan, seniman, pengarang. 

Di sini, kala itu, belum ada semua itu. Bukan saja jumlah orang intelektual di negeri ini lebih kecil --malah jika dibandingkan dengan jumlah seluruh penduduk lebih-lebih lagi kecilnya-- akan tetapi orang-orang intelektual yang ada itu pun tidak merupakan suatu kesatuan dalam hal dunia pikir dan kultur. Dari sudut kultural mereka masih mencari bentuk dan kesatuan. Dan bagi mereka hal itu lebih sukar daripada bagi kaum intelektual di negeri Belanda. 

Mereka di sana, tanpa disadari, mau tak mau, membangun terus di atas landasan yang sudah ada. Mereka berdiri atau mengambang di atas masa silam mereka, di atas tradisi mereka. Dan juga apabila mereka menentang segala hal itu, mereka sebenarnya tidak berbuat lain daripada memakainya sebagai titik persambungan, titik tolak.

Tandas Sutan Syahrir mengungkap betapa yang demikian itu tidak ada di negeri kita ini. Di sini sudah berabad- abad lamanya seolah-olah tidak ada kehidupan intelektual dan kultural lagi, tidak ada kemajuan lagi. Memang ada bentuk-bentuk kesenian ketimuran yang sangat dipuji itu --tapi bukankah bentuk-bentuk itu sebenarnya hanya peninggalan-peninggalan saja dari suatu kebudayaan feodal, di mana kita manusia abad kedua puluh tidak mungkin mendapatkan tumpuan? 

Apakah yang masih bisa diberikan oleh wayang --yaitu segala simbolik dan mistik sederhana itu yang paralel kepada alegori dan hikmah abad pertengahan di Eropa-- kepada kita dalam bidang intelektual dan kultural umum? Praktis tidak apa-apa. Kebutuhan-kebutuhan intelektual kita adalah kebutuhan-kebutuhan abad kedua puluh; masalah-masalah kita dan pandangan kita adalah masalah-masalah dan pandangan abad kedua puluh. Kita tidak cenderung lagi pada mistik, melainkan pada realitas, kejernihan, kelugasan.

Diasingkan, bagaimana pun, tetap terkekang, walau ada sela-sela waktu kala Sutan Syahrir cukup menikmati keberadaannya, misalnya, di Banda Neira. Banda adalah kepulauan yang indah sekali pemandangannya, dan terlebih orang-orangnya, memiliki toleransi besar satu terhadap yang lain. Bahkan, kata Sutan Syahrir dalam suratnya 21 Mei 1936, di sini telah terjadi suatu proses asimiliasi yang mendalam. Orang-orang Eropa-Belanda lebih senang memakai bahasa Banda, yaitu bahasa Melayu, di antara mereka sendiri. Mereka memakai adat istiadat Belanda kuno atau Arab, tapi terutama sekali adat kebiasaan Indonesia. Sebaliknya, orang Indonesia di sini banyak pula mengambil dari adat istiadat orang Belanda dan Arab. 

Orang-orang Arab, Eropa, Indonesia dan Tionghoa di Banda sering berhubungan keluarga, sebab telah terjadi percampuran darah secara luas. Pada wajah mereka kelihatan hasil percampuran darah itu. Di sini umpamanya ada seorang anak yang ibunya adalah keturuan laki-laki Tionghoa dan perempuan Swiss, dan ayahnya keturunan orang Menado dan perempuan peranakan Belanda; yang kemudian ini mempunyai darah Arab. Percampuran darah inilah yang salah satu sebab orang-orang di sini agak toleran sifatnya. 

Pergaulan antara satu dengan yang lain begitu erat dan percampuran darah antara orang-orang di sini membuat pulau ini menjadi suri teladan dari sikap mental bangsa Indonesia, kata Sutan Syahrir dalam suratnya yang lain di tahun 1936. Bagi orang-orang yang datang dari luar, yang pertama-tama menonjol di sini ialah keramahan penduduknya. Orang Kristen (di sini disebut orang Serani) dan orang Islam hampir sama banyaknya, tetapi dalam pergaulan tidak ada pemisahan antara keduanya, dan kalau pun ada, datangnya dari luar, dari pulau-pulau lain, dan itu pun tidak pernah ditunjukkan terang-terangan.

''Pada perhelatan perkawinan tadi malam,'' katanya (tanggal 8 malam Oktober 1936), ''hadir juga orang-orang Kristen, padahal orang-orang Islam di sini masih ortodoks. Tapi yang karakteristik bagi mentalitas mereka ialah bahwa biar pun mereka memeluk agama Islam yang ortodoks sekali, sikap mereka toleran juga terhadap orang-orang Islam yang tidak menjalani aturan-aturan Islam. 

Demikianlah umpamanya Soebana, Hafil dan aku (Sutan Syahrir) selalu dan di mana-mana bertamu ke rumah orang dengan berpakaian pantalon; kami pun tidak berkupiah, paling-paling pakai topi, padahal sarung dan kupiah bagi kebanyakan orang di sini merupakan syarat keislaman seseorang. Mereka masih juga memandang kami orang seagama, meskipun kami selalu berpakaian seperti orang 'kafir', bahkan pun di tempat-tempat orang sembahyang....Kami belum pernah mengalami hal-hal yang tidak enak.''

Setelah mengalami 'masa' kebudayaan Arab, dan pernah pula berkembang kebudayaan Hindu, bahkan Tiongkok, katanya, ''sekarang kita sampai kepada periode Eropa dan ini adalah kenyataan yang sangat penting.'' Secara relatif kita bangsa Indonesia --menurut ukuran khas pribumi-- adalah bangsa yang paling sedikit mempunyai kepribadian sendiri, dan itulah sebabnya maka pada kita tidak mungkin ada suatu nasionalisme fanatik seperti pada bangsa-bangsa lain di Asia. 

Pada kenyataannya, dalam hal pikiran, kita telah banyak mendekati penjajah kita bangsa kulit putih. Pada kita kebencian terhadap laku perbuatan orang kulit putih tidak begitu sengit seperti pada bangsa Asia yang lain. Pada kita tidak ada pula kefanatikan dalam hal agama --ini pun suatu gejala yang sama dengan hal tersebut di atas-- sehingga fakta bahwa si penguasa menganut agama Kristen pun masih belum membuat kehadiran mereka di sini tak tertahankan lagi. Itulah pula sebabnya nasionalisme kita pada dasarnya akan tetap bersifat politis dan lebih berwarna ekonomis. Segala yang lain hanya lahiriah saja dan tidak akan bisa melahirkan suatu kekuatan yang nyata. Begitulah, sekelumit pemikiran Sutan Syahrir.
Nama

Architect,1,Astronomy,1,Auto,9,Food,1,Health,13,History,9,Khazanah,65,News,2,Science,4,Sport,1,Style,2,Tech,33,Travel,4,Tricks,4,Videos,2,
ltr
item
Internetan Gratis: Persoalan dan Pemikiran Sutan Syahrir
Persoalan dan Pemikiran Sutan Syahrir
Aneka ragam persoalan dan sekelumit pemikiran Sutan Syahrir
https://4.bp.blogspot.com/-JMsxlXEbQtY/W6Y9PQi8JsI/AAAAAAAAAcU/EOwivmcUZV4Xvx2tcZZFIfVmk3A1Eqw2QCLcBGAs/s400/persoalan-dan-pemikiran-sutan-syahrir.JPG
https://4.bp.blogspot.com/-JMsxlXEbQtY/W6Y9PQi8JsI/AAAAAAAAAcU/EOwivmcUZV4Xvx2tcZZFIfVmk3A1Eqw2QCLcBGAs/s72-c/persoalan-dan-pemikiran-sutan-syahrir.JPG
Internetan Gratis
https://www.internetan.gratis/2018/09/persoalan-dan-pemikiran-sutan-syahrir.html
https://www.internetan.gratis/
https://www.internetan.gratis/
https://www.internetan.gratis/2018/09/persoalan-dan-pemikiran-sutan-syahrir.html
true
474406421978589795
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy